Pertama-tama tentunya bayi tidur menyenangkan bagi ibunya karena kesempatan emas itu adalah kesempatan bagi sang bunda untuk ikut tidur atau beristirahat. Tidak heran kalau wajah bayi yang tertidur senantiasa nampak bagaikan wajah malaikat yang begitu penuh dengan ketenangan, halus dan mempesona.

Anak pertama masih menjadi obyek pemotretan yang sangat berlebihan. Anak pertamaku punya foto sedang tertidur dengan digendong berbagai orang. Dari ayah, ibu, kakek, nenek, hingga om dan tante, semua ikut menggendong. Ada juga foto-foto di mana yang menjaga ikut tertidur bersama sang bayi.
Tidur itu sangat penting bagi bayi. Dalam National Geographic Mei 2010 ada sebuah artikel berjudul "Misteri Tidur". Di dalam artikel itu dikatakan bahwa sepertiga dari usia kita digunakan untuk tidur. Apa yang menyebabkan kita tidur tetap belum jelas meskipun orang telah puluhan tahun melakukan riset mengenai tidur. Teori yang paling mudah diterima katanya adalah bahwa tidur merupakan kebutuhan otak.
Sebuah penelitian di Harvard yang dipimpin oleh Robert Stickgold menemukan bahwa mahasiswa yang mengalami tidur REM meningkat kinerjanya dalam tugas pengenalan pola seperti tata bahasa, sementara mahasiswa yang mengalami tidur gelombang dalam lebih baik dalam menghafal. Konsolidasi memori mungkin merupakan salah satu fungsi tidur, demikian kesimpulan dari penelitian itu.
Bisa jadi penelitian itu memiliki korelasi dengan kondisi anak kembar saya yang sangat sukar dalam menghafal. Ketika memasuki kelas I SD mereka mampu menuliskan (baca: menyalin) tulisan tapi tidak mampu membacanya, mereka bahkan tidak bisa mengenali satu huruf pun. Padahal mereka sudah belajar mengenal huruf sejak masih sangat dini. Bahkan mungkin lebih dini usianya daripada ketika kakak sulung mereka belajar huruf. Mungkinkah masalah gangguan tidur (akibat muntah ataupun geliat-geliat gelisah dalam tidur) mereka yang menjadi penyebabnya?


Walaupun tidur itu berguna bagi bayi, tetapi terlalu banyak tidur juga perlu dicermati oleh ibu muda yang baru pertama kali memiliki anak. Ketika sepupuku memiliki seorang bayi yang manis dan pendiam, terus terang saya sempat merasa iri. Ibunya bisa menyempatkan diri untuk bekerja dan memiliki waktu bersantai tanpa terlihat terganggu oleh kehadiran bayinya. Bayinya sangat pendiam, dan banyak tidur. Ia akan bangun untuk menyusu lalu kembali terlelap. Hal itu sangat langka bagiku yang punya bayi aktif dengan jarak waktu menyusu agak terlalu cepat. Ternyata tak lama kemudian, kami baru mengetahui bahwa bayi sepupuku yang manis dan pendiam itu memiliki masalah jantung bawaan. Operasi yang dilakukan pada usianya yang masih sangat belia tidak berhasil memperpanjang kehidupannya. Karena itu berhati-hati jugalah bila memiliki bayi yang terlalu banyak tidur.
Sama seperti semua aktivitas lainnya yang butuh keseimbangan, demikian pula kita membutuhkan tidur sesuai dengan kebutuhan badan. Terlalu banyak tidak baik, terlalu sedikit juga berakibat buruk. Jadi perhatikanlah kebutuhan tidur itu, karena kita membutuhkannya dari sejak bayi hingga dewasa dengan kadar yang berbeda-beda setiap orangnya.

Tampaknya tidur yang cukup juga mengurangi hiperaktivitas anak. Tidur siang bersama juga berguna untuk mendekatkan kakak dan adik, walaupun tidak jarang juga ada yang terkena tendangan (tidak sengaja). Apakah kebiasaan tidur juga hubungannya dengan kebiasaan di dalam kandungan? Entahlah, tapi salah tahu kebiasaan tidur anak kembarku cukup membuat orang-orang tertawa geli, gaya tidur tengkurap mereka masih bertahan hingga usia yang cukup besar. Gaya tidur ini pernah kuperlihatkan di sini.
Keterangan foto:
Ray dan mama; sama-sama tidur
Raphael dan Fransisco; yang lebih lemah tampak seakan berlindung
Raphael dan Fransisco; gaya tidur yang antik
Ray dan Raphael; paling akrab kalau tidur