Anak memang merupakan gambaran keajaiban dari Tuhan. Kehadiran mereka di dalam rahim saja sudah terasa begitu ajaib...seorang mahkluk hidup yang tergantung pada keberadaan sang ibu, yang ikut kemanapun ibunya pergi, yang merasakan apapun yang dikecap ibunya, bahkan juga ikut merasakan suasana batin sang bunda. Ajaib memikirkan betapa sebutir telur kecil berkembang membelah diri menjadi seorang bayi mungil yang montok dan lucu.
Kalau satu anak saja sudah terasa begitu ajaib, apalagi kehadiran dua bayi sekaligus...
Kehadiran anak kembar saya juga merupakan suatu kejutan. Bayangkan, awalnya dokter kandungan memanggil saya datang untuk konsultasi karena hasil tes yang kurang bagus (sepertinya ini skrining alpha fetoprotein plus yang dilakukan karena usia ibu ketika hamil sudah 35 tahun). "Kemungkinan anak anda Down Syndrome," kata suster yang menelpon, "Kita membutuhkan pemeriksaan lanjutan." Terbayang betapa terkejutnya saya mendengar berita itu? Tentu saja, rasanya benar-benar lemas dan tidak mampu berpikir. Dalam ajaran agama saya, janin sudah hidup sejak terjadi pembuahan. Sebagai orang yang selalu mendukung kehidupan (pro life bukan pro choice), mustahil untuk memikirkan kemungkinan mengakhiri kehamilan.
Suami yang pada kehamilan ke dua ini tidak lagi mengantar ke dokter kandungan, jadi ikut hadir dalam pertemuan berikut dengan dokter kandunganku. Suara jantung didengar, dan sang dokter membesarkan hati kami dengan mengatakan bahwa belum tentu janin kami Down Syndrom, ia akan memeriksa USG lebih teliti, kemudian bila diperlukan akan mengambil cairan plasenta (Amniocentesis) untuk pemeriksaan yang lebih lanjut.
Kejutan itu muncul ketika USG dilaksanakan dengan waktu yang cukup lama. Dokter bertanya apakah saya memiliki keturunan kembar dalam keluarga. Setahu saya tidak ada yang kembar. Saudara sepupu saya di Perancis memang Agustus tahun sebelumnya melahirkan anak kembar lelaki, tetapi saya mencurigai dokter kandungan di Perancis memberinya obat penyubur. Sepupu saya itu pernah kehilangan bayinya ketika sang buah hati belum genap berusia dua bulan, sehingga depresi yang timbul membuat dokter menyarankan agar ia segera memiliki anak lagi. Menurut mereka tidak ada penggunaan obat penyubur, tapi dalam keadaan bingung saya mengutarakan pikiran itu. Rupanya hasil tes saya yang menunjukkan angka tinggi (penanda Down Syndrome) terjadi karena ada dua janin di dalam perutku. Terbayang betapa kejutan yang satu berubah menjadi kejutan lain lagi?
Hah??? Kembar???? Saya dan suami tidak termasuk orang yang menginginkan anak kembar, apalagi kami sudah memiliki satu anak yang saat itu baru saja masuk sekolah. Wah, yang pertama terbayang adalah besarnya biaya yang harus kami sediakan sekaligus bila persalinan terpaksa harus melalui operasi. Bersyukur karena diagnosa Down Syndrome itu terbukti bukan perkiraan yang tepat, tetapi kaget juga tiba-tiba mendapat anugerah ganda.
Rupanya itulah penyebab rasa aneh yang kurasakan ketika duduk di lantai, juga rasa sesak yang terasa ketika tidur. Sebelumnya saya sempat bertanya pada dokter mengapa rasanya begitu pegal, tidak seperti kehamilan pertama saya. Apalagi saya juga tidak sanggup makan, semua makanan yang saya makan (kecuali buah mangga yang matang) pasti termuntahkan kembali. Ketika itu saya malah diomeli dokter. Saya disarankan untuk terus berpikiran positif, jangan cengeng, "Kasihan bayinya...," demikian kata dokter waktu itu. Ternyata jawabannya adalah kondisi bayi yang kembar. Hasil tes sangat tinggi menjadi wajar karena ada dua janin. Rasa pegal itu juga karena beban ganda yang harus saya bawa bersamaan.
Semakin besar usia kehamilan semakin sulit saya tidur, bukan hanya disebabkan oleh rasa sesak nafas dan sulit bergerak, tetapi juga karena kedua janin itu tidak berhenti bergumul di dalam perutku. Biasanya setelah punggungku dibalur minyak tawon yang hangat barulah mereka terdiam, tidur dengan nyenyak rupanya. Herannya setelah lahir, mereka masih juga suka bergumul...ada saja hal yang mereka pertengkarkan, belum lagi rasa iri atas perhatian mamanya pada kembarannya. Mungkinkah hal itu karena harus berbagi ruang sempit di dalam perutku selama tiga puluh enam minggu?
Mereka memang terlahir lebih cepat dari yang diinginkan dokter. Awalnya saya merasakan rembesan air ketuban ketika kelelahan menemani anak sulungku merayakan Tujuh Belas Agustus di sekolahnya, lalu merayakan ulang tahun keponakan dari suami sehari sesudah peringatan Tujuh Belas Agustus. Tapi ternyata ketika itu kondisi kandungan menurut dokter aman-aman saja. Tanggal 5 Oktober saya tiba-tiba melihat sedikit cairan memerah di celana...pendarahan. Mengingat anak pertama dahulu lahirnya masih sangat lama dari bukaan pertama, saya sempat santai dan masih bermaksud menemani anak sulung saya ke pesta ulang tahun. Hanya saja, ibu saya sudah mengomel dan memberikan perintah kepada sang menantu untuk segera membawa anaknya ke dokter. Dan jadilah saya diminta beristirahat total di tempat tidur Rumah Bersalin.
Aku lelah sudah empat hari tidur melulu, tidak boleh bangun sama sekali dari tempat tidur. Selama tiga hari diberi suntikan kortison agar menguatkan paru-paru bayi supaya mereka sudah siap bila harus lahir prematur. Setiap hari saya melahap coklat Silver Queen agar berat badan bayi yang lewat deteksi USG baru memiliki berat badan di bawah 2 kg, kalau tidak salah 1,6 kg dan 1,8 kg. Hari ke lima saya mulai berasa kurang enak, maklum risih rasanya BAB di tempat tidur, jadi selama lima hari itu saya tidak sanggup BAB. Tapi perut menjadi mulas. Saya minta izin dokter untuk turun ke WC, karena rasanya memang tidak sanggup harus BAB di tempat tidur. Ketika izin diberikan, dengan ditunggui suster di depan pintu, saya berhasil BAB. Tapi rasanya masih belum tuntas...Dasar bandel, tanpa minta izin... apalagi minta ditemani, saya membawa tiang infus saya sendirian ke kamar mandi. Mencoba lagi...Tidak berhasil...
Rupanya itulah awal dari dorongan pembukaan untuk kelahiran bayi-bayiku. Setelah itu saya mulai merasa ingin buang air kecil (BAK) setiap lima belas menit, semakin lama semakin terasa cepat, lima menit sekali...sampai akhirnya suster jaga melihat bahwa sudah saatnya saya dibawa ke ruang Kala II, yaitu ruang untuk menunggu persalinan. Ketika itu kurang lebih pukul 02.00 pagi. Awalnya dokter masih menginginkan saya menambah istirahat sedikitnya 2 minggu lagi agar mencapai usia janin 38 minggu, tapi ternyata benar-benar tidak bisa ditahan lagi.
Saat akan melahirkan, air ketuban sudah dipecahkan dokter...bukaan sepuluh sudah lama terjadi, tetapi anak-anak itu tersangkut di lubang lahir. Keduanya ingin lahir bersamaan, tidak seorangpun yang mau mengalah sehingga terjadi adu kepala. Dokter sudah angkat tangan dan meminta izin operasi. Kebetulan saat itu suami saya tidak ada di tempat. Menunggu sejak pagi tanpa perkembangan membuat dia gelisah, dan mendengar bahwa dokter menginginkan saya menunggu paling tidak dua minggu lagi, membuat dia minta izin kepada ibuku untuk pergi menghadiri sebuah rapat di proyek yang sedang dikerjakannya. Ketika dokter minta ibuku menanda-tangani izin operasi, ibuku menjadi sedikit panik dan sempat mengatakan ingin menunggu suamiku. Tapi ia segera tersadar dan menanda-tangani surat izin keluarga itu. Kejadian ini sempat memperpanjang waktu persiapan ruang operasi dan menghubungi dokter spesialis anastesi. Perpanjangan waktu yang tidak lama itu rupanya memberikan kesempatan bagi kedua janin di perut saya untuk memperbaiki posisi. Setelah saya berdoa mohon bantuan Tuhan untuk bisa menghindari operasi (terus terang saya takut sekali dioperasi), saya lalu meminta mereka bersiasat agar bisa keluar. Yang badannya lebih besar saya minta mengalah, sementara yang lebih kecil badannya saya minta mencoba keluar lebih dahulu.
Bayi pertama yang lebih kecil, dua koma empat kilogram, muncul terlebih dahulu. Bidan yang melihatnya berteriak memanggil dokter dan membatalkan persiapan operasi. Dibantu dengan alat penyedot bayi kembar pertamaku lahir. Kepalanya agak sedikit benjol untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian selang waktu lima menit keluarlah bayi kedua yang berat badannya ternyata dua koma enam kilogram. Kemudian sekali lagi harus mengejan untuk mengeluarkan plasenta yang menurut dokter hanya satu karena keduanya adalah bayi kembar identik. Anak-anakku lelaki lagi...
Menurut yang menjengukku sesaat sebelum proses lahiran berlangsung, wajahku menghitam. Entahlah, satu hal lain yang sangat ajaib bagiku adalah kenyataan bahwa rasa sakit ketika melahirkan itu selalu tertutup oleh bahagia menyaksikan buah hati yang lahir selamat tanpa cacat apapun.
Setiap kehamilan rupanya bisa berbeda masalahnya. Bahkan untuk urusan kenaikan berat badanpun tidak selalu harus sama. Ketika hamil anak pertama yang lahir seberat tiga koma tiga kilogram, aku hanya menambah timbangan sekitar 11 kilogram. Sementara ketika hamil sikembar aku menambah beban cuma 13 kilogram.
Beruntung semuanya berjalan baik, si kecil hanya sempat sedikit kuning sehingga harus disinar agar mengurangi kadar bilirubinnya. Episode baru yang menanti adalah belajar memberi ASI kepada keduanya secara bersamaan. Menyusui satu demi satu tampaknya agak sulit, ketika yang satu belum lagi kenyang bayi kembarannya sudah menangis melengking putus asa kehausan. Alhasil saya berupaya untuk menjalankan teori menyusui anak kembar secara bersamaan, satu di kiri, dan satu lagi di kanan. Kini setelah semua itu berlalu, rasanya sungguh ajaib bisa melaksanakannya sendirian.
Hidup memang penuh keajaiban.
Friday, 29 January 2010
Saturday, 23 January 2010
Bayi dan bahasanya
Beberapa waktu lalu tampaknya ibu-ibu Indonesia cukup heboh dengan kehadiran Dunstan baby language, hasil temuan seorang wanita bernama Priscilla Dunstan, yang terangkat berkat acara televisi Oprah Winfrey.
Tiba-tiba ramai dibicarakan orang mengenai bahasa bayi, dan cara mempelajarinya. Berbagai macam buku dan video bisa dibeli untuk mempelajari bahasa bayi yang katanya universal itu.
Menurut saya, sebenarnya bahasa bayi tidak perlu sesusah itu dipelajari, cukup sang ibu lebih teliti menangkap tanda-tanda dari bayinya, secara otomatis "bahasa bayi" tadi jadi bermakna.
Menurut wikipedia, pengenalan bahasa bayi dari Dunstan belum teruji secara ilmiah, tetapi tampaknya secara usaha langsung dibagikan kepada pasar. Ada lima suara bayi yang menurut teori Dunstan berlaku universal yaitu:
Neh : saya lapar
Owh : saya mengantuk
Heh : saya merasa tidak nyaman
Eairh : saya kembung, banyak angin di perut
Eh : saya kembung, ingin sendawa
Unik juga bahwa Priscilla Dunstan mau berlelah-lelah mempelajari suara bayi lainnya sehingga menghasilkan teori "bahasa bayi Dunstan" yang sekarang kabarnya menjadi usaha mantan suaminya.
Anak pertama saya termasuk anak yang cerdas berbahasa (pada waktu bayi, heran juga bahwa dia sekarang tidak terlalu pandai berekspresi secara lisan maupun tulisan). Dia sangat cepat mengerti perkataan, dan memiliki ekspresi tersendiri dengan keinginannya. Terus terang saya tidak mencatat apakah ia menggunakan lima ekspresi yang disebut-sebut oleh Dunstan. Tentu saja "owh" adalah ekspresi mengantuk yang kita orang dewasa juga kenal, tapi selain itu saya kurang memperhatikannya. Mungkin juga saya perlu membuka kembali catatan harian saya untuk bayi pertama saya. Maklum anak pertama, saya masih rajin mencatat dan membuat album foto.
Ada satu bahasa bayi yang sangat khas dari anak pertama saya, sehingga lama-lama orang lain juga ikut mengenalinya..."ging", terkadang terdengar sebagai "nggingg..." yang artinya dia minta susu. Suara ini hanya khusus terdengar saat dia ingin susu. Saat lapar dan ingin makan biskuit tidak pernah terdengar kata "ging". Tapi, rasanya itu adalah satu-satunya bahasa bayinya yang kucatat.
Bagi orang lain, anak pertamaku mungkin agak terlambat bicara, paling tidak terlambat untuk ukuran pengertian orang lain. Bagi saya dan anak saya, tidak ada kesan terlambat, karena saya mengerti saja apa yang ingin dikatakannya walaupun bagi orang lain ucapannya masih termasuk ocehan bayi (babbling).
Sempat bingung juga bila dia terlambat bicara karena bingung bahasa. Maklum, sejak dalam kandungan dia sudah menjadi korban eksperimen ibunya. Dari musik Mozart, Tchaikovsky, sampai lagu Perancis Anggun C Sasmi menjadi menu harian sang janin. Buku bacaan kubacakan termasuk "Matilda" (karya Roald Dahl) yang kudengarkan kasetnya dalam bahasa Perancis. Alhasil setelah agak besar yang muncul pertama kali adalah penolakan terhadap bahasa Inggris dan bahasa Perancis. "Mama, boleh aku belajar bahasa Spanyol? Aku sudah bisa uno, dos, tres,...," demikian pintanya sambil mengeja angka dalam bahasa Spanyol dari satu, dua, tiga, hingga angka sepuluh. Sumbernya kemungkinan sekali adalah VCD Dora the Explorer yang sebenarnya kubelikan dalam bahasa Inggris, tapi memang Dora memasukkan pelajaran bahasa Spanyol dalam filmnya.
Herannya juga, anakku ini tidak termasuk anak yang suka dibacakan cerita ketika masih kecil, tapi sekarang ketika menjelang remaja tampaknya ia cukup senang membaca (walaupun bukan buku tebal seperti Harry Potter). Ia tidak cukup diam untuk dipangku dan dibacakan cerita. Sebuah buku tentang Dumbo menjadi korban robekan tangan mungilnya yang tidak bisa diam.
Yang paling menyenangkan adalah efek musik yang cukup terasa. Bila dia rewel maka musik cukup bisa menenangkannya. Meskipun dia tidak bisa diam, tetapi dia cukup mampu untuk ditinggal bermain sendirian di dalam tempat bermain yang khusus dibuatkan untuknya.
Ketika awal memasuki masa bicara (walaupun dianggap belum jelas) dia kesulitan mengucapkan awalan. Setiap kata merupakan perulangan kata. Jadilah mama dan oma, serta papa dan opa hanya berbunyi "Ma-ma" dan "Pa-pa". Karena papanya agak jarang berada bersamaan dengan opa, maka kata "opa" menjadi "papa" tidak terlalu bermasalah, sementara untuk membedakan antara mama dan oma perlu sebuah kiat khusus. Jadilah ia diperkenalkan dengan panggilan "nenek" yang juga mirip dengan perulangan "ne-ne". Dan akhirnya semua generasi cucu memanggil ibuku dengan sebutan "nenek", sementara sang kakek tetap mendapat panggilan "opa".
Kembali ke soal bahasa bayi...Menurut saya, tidak perlu secara khusus mempelajari bahasa bayi, entah benar-benar universal atau tidak, yang perlu adalah mempelajari bahasa bayi yang dikeluarkan bayi kita sendiri. Catat saja setiap kali ia mengeluarkan perkataan yang tampaknya bermakna atau berulang. Awalnya saya pikir kata "ging" itu timbul karena adanya respon terhadap keinginannya, sehingga "kata" tersebut dibakukan dalam perbendaharaan bahasa bayinya.
Pada si kembar terus terang agak sulit bagi saya untuk mengenali bahasa bayi mereka. Mungkin kelelahan fisik, ditambah usia yang tidak terlalu muda lagi (35 tahun) apalagi setiap malam harus mengurus dua bayi seorang diri, membuat kepekaan dan kesabaranku untuk mengenali bahasa mereka agak kurang.
Tapi, sepandai apapun saya mengenali suara bayi tetap saja ketika mereka rewel karena sakit biasanya saya juga menjadi serba salah, dan lebih sering salah mengartikan keinginan mereka sehingga berakhir dengan tangisan yang semakin keras.
Tiba-tiba ramai dibicarakan orang mengenai bahasa bayi, dan cara mempelajarinya. Berbagai macam buku dan video bisa dibeli untuk mempelajari bahasa bayi yang katanya universal itu.
Menurut saya, sebenarnya bahasa bayi tidak perlu sesusah itu dipelajari, cukup sang ibu lebih teliti menangkap tanda-tanda dari bayinya, secara otomatis "bahasa bayi" tadi jadi bermakna.
Menurut wikipedia, pengenalan bahasa bayi dari Dunstan belum teruji secara ilmiah, tetapi tampaknya secara usaha langsung dibagikan kepada pasar. Ada lima suara bayi yang menurut teori Dunstan berlaku universal yaitu:
Neh : saya lapar
Owh : saya mengantuk
Heh : saya merasa tidak nyaman
Eairh : saya kembung, banyak angin di perut
Eh : saya kembung, ingin sendawa
Unik juga bahwa Priscilla Dunstan mau berlelah-lelah mempelajari suara bayi lainnya sehingga menghasilkan teori "bahasa bayi Dunstan" yang sekarang kabarnya menjadi usaha mantan suaminya.
Anak pertama saya termasuk anak yang cerdas berbahasa (pada waktu bayi, heran juga bahwa dia sekarang tidak terlalu pandai berekspresi secara lisan maupun tulisan). Dia sangat cepat mengerti perkataan, dan memiliki ekspresi tersendiri dengan keinginannya. Terus terang saya tidak mencatat apakah ia menggunakan lima ekspresi yang disebut-sebut oleh Dunstan. Tentu saja "owh" adalah ekspresi mengantuk yang kita orang dewasa juga kenal, tapi selain itu saya kurang memperhatikannya. Mungkin juga saya perlu membuka kembali catatan harian saya untuk bayi pertama saya. Maklum anak pertama, saya masih rajin mencatat dan membuat album foto.
Ada satu bahasa bayi yang sangat khas dari anak pertama saya, sehingga lama-lama orang lain juga ikut mengenalinya..."ging", terkadang terdengar sebagai "nggingg..." yang artinya dia minta susu. Suara ini hanya khusus terdengar saat dia ingin susu. Saat lapar dan ingin makan biskuit tidak pernah terdengar kata "ging". Tapi, rasanya itu adalah satu-satunya bahasa bayinya yang kucatat.
Bagi orang lain, anak pertamaku mungkin agak terlambat bicara, paling tidak terlambat untuk ukuran pengertian orang lain. Bagi saya dan anak saya, tidak ada kesan terlambat, karena saya mengerti saja apa yang ingin dikatakannya walaupun bagi orang lain ucapannya masih termasuk ocehan bayi (babbling).
Sempat bingung juga bila dia terlambat bicara karena bingung bahasa. Maklum, sejak dalam kandungan dia sudah menjadi korban eksperimen ibunya. Dari musik Mozart, Tchaikovsky, sampai lagu Perancis Anggun C Sasmi menjadi menu harian sang janin. Buku bacaan kubacakan termasuk "Matilda" (karya Roald Dahl) yang kudengarkan kasetnya dalam bahasa Perancis. Alhasil setelah agak besar yang muncul pertama kali adalah penolakan terhadap bahasa Inggris dan bahasa Perancis. "Mama, boleh aku belajar bahasa Spanyol? Aku sudah bisa uno, dos, tres,...," demikian pintanya sambil mengeja angka dalam bahasa Spanyol dari satu, dua, tiga, hingga angka sepuluh. Sumbernya kemungkinan sekali adalah VCD Dora the Explorer yang sebenarnya kubelikan dalam bahasa Inggris, tapi memang Dora memasukkan pelajaran bahasa Spanyol dalam filmnya.
Herannya juga, anakku ini tidak termasuk anak yang suka dibacakan cerita ketika masih kecil, tapi sekarang ketika menjelang remaja tampaknya ia cukup senang membaca (walaupun bukan buku tebal seperti Harry Potter). Ia tidak cukup diam untuk dipangku dan dibacakan cerita. Sebuah buku tentang Dumbo menjadi korban robekan tangan mungilnya yang tidak bisa diam.
Yang paling menyenangkan adalah efek musik yang cukup terasa. Bila dia rewel maka musik cukup bisa menenangkannya. Meskipun dia tidak bisa diam, tetapi dia cukup mampu untuk ditinggal bermain sendirian di dalam tempat bermain yang khusus dibuatkan untuknya.
Ketika awal memasuki masa bicara (walaupun dianggap belum jelas) dia kesulitan mengucapkan awalan. Setiap kata merupakan perulangan kata. Jadilah mama dan oma, serta papa dan opa hanya berbunyi "Ma-ma" dan "Pa-pa". Karena papanya agak jarang berada bersamaan dengan opa, maka kata "opa" menjadi "papa" tidak terlalu bermasalah, sementara untuk membedakan antara mama dan oma perlu sebuah kiat khusus. Jadilah ia diperkenalkan dengan panggilan "nenek" yang juga mirip dengan perulangan "ne-ne". Dan akhirnya semua generasi cucu memanggil ibuku dengan sebutan "nenek", sementara sang kakek tetap mendapat panggilan "opa".
Kembali ke soal bahasa bayi...Menurut saya, tidak perlu secara khusus mempelajari bahasa bayi, entah benar-benar universal atau tidak, yang perlu adalah mempelajari bahasa bayi yang dikeluarkan bayi kita sendiri. Catat saja setiap kali ia mengeluarkan perkataan yang tampaknya bermakna atau berulang. Awalnya saya pikir kata "ging" itu timbul karena adanya respon terhadap keinginannya, sehingga "kata" tersebut dibakukan dalam perbendaharaan bahasa bayinya.
Pada si kembar terus terang agak sulit bagi saya untuk mengenali bahasa bayi mereka. Mungkin kelelahan fisik, ditambah usia yang tidak terlalu muda lagi (35 tahun) apalagi setiap malam harus mengurus dua bayi seorang diri, membuat kepekaan dan kesabaranku untuk mengenali bahasa mereka agak kurang.
Tapi, sepandai apapun saya mengenali suara bayi tetap saja ketika mereka rewel karena sakit biasanya saya juga menjadi serba salah, dan lebih sering salah mengartikan keinginan mereka sehingga berakhir dengan tangisan yang semakin keras.
Monday, 14 December 2009
Keajaiban Anak Pertama
Semua yang pertama kali senantiasa istimewa, begitu juga dengan kehadiran anak pertama. Semua terasa baru, aneh, bahkan mungkin kurang menyenangkan tapi juga ajaib...
Bayangkan seorang calon anak sedang bertumbuh di perutmu. Setiap saat terasa mual, dan hampir setiap pagi muntah, tetapi menurut dokter kandungan justru perasaan mual itu tanda bahwa anak sedang bertumbuh. Yang paling terasa bagiku adalah perasaan mengantuk yang amat sangat, jadi ketika bertahun-tahun kemudian rasa kantuk yang amat sangat ini kembali menyerang saya tahu sudah waktunya membeli alat pemeriksa kehamilan.
Keajaiban lain yang terasa selama mengandung adalah ketulian sementara. Benar, untuk sementara waktu aku menjadi sedikit tuli, budek mungkin istilah yang lebih tepat (entah istilah ini masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia atau tidak hehehe...). Ketulian itu mengganggu pekerjaanku, dalam berbicara dengan orang saya harus minta tolong orang mengulang perkataannya dua atau tiga kali, sungguh memalukan! Rasanya ketidak seimbangan itu sangat mengganggu, bila berdiri lama terasa pusing, demikian juga tatkala saya mengendarai mobil. Karena itu ketika memasuki usia kehamilan tujuh bulan, saya terpaksa berhenti sementara dari pekerjaan.
Sempat berobat ke THT, tapi berdasarkan pemeriksaan kondisi telinga saya baik-baik saja. Pesan dokter hanya satu, minum vitamin yang cukup dan bila setelah melahirkan masih terasa tuli baru kembali ke dokter. Ternyata kondisi "tuli" itu memang hanya terjadi selama kehamilan.
Tonjolan-tonjolan tinjunya atau tendangan kaki mungilnya membuat perutku seperti permukaan laut yang bergelora, terkadang menonjol di kiri, terkadang naik di kanan, gepeng ke kiri...gepeng ke kanan.
Kenaikan berat badanku tidak terlalu banyak, 11 kg sudah cukup membuat tubuh senantiasa terasa panas dan semakin besar usia kandungan semakin tidak tahan menahan buang air kecil. Kebetulan saat mengandung itu hampir bersamaan dengan Kris Dayanti (KD) yang mengandung anak pertamanya. Kalau tidak salah kenaikan berat badannya 27 kg...(apa salah ya?!) wah tidak tebayangkan... Saya sering melihatnya dipotret adik saya, jadi tambah terasa betapa ajaib pemberian Tuhan. Sementara saya menjadi setengah "lumpuh" karena "tuli", KD dengan genderang yang lebih besar tetap aktif dalam kegiatannya menyanyi dan pemotretan. Lagu "Timang-timang anakku sayang..." ikut mewarnai masa-masa awal kehadiran anakku. Sayang sekali biduk rumah tangga KD saat ini sudah terburaikan gelombang kehidupan yang memang ganas. Sebenarnya anak adalah perekat dari setiap bahtera, dengan Tuhan yang menjadi jurumudi utama. Terkadang kita melupakan keduanya, dan sibuk berkutat dengan ego dan kebutuhan masing-masing.
Kelahiran putra pertamaku juga terasa ajaib. Pada bukaan delapan tiba-tiba tiada gerakan sama sekali. Selang oksigen sudah sedari tadi menempel di hidungku, sementara dokter juga tidak kunjung hadir. Kehadiran perawat dan bidan yang sangat telaten memberi semangat (bahkan memijatku) membuat penantian yang terasa lama sekali itu tidak terlalu mengerikan. Karena itu dalam memilih rumah bersalin sangat penting untuk memiliki perasaan nyaman dan aman di tangan bidan dan perawat yang membantu persalinan. Ketika bukaan sepuluh tiba tiba-tiba justru kedua pahaku dirapatkan, ternyata dokter kandunganku sudah tiba...jadi menunggu dia menolong kelahiran. Ajaib tentunya melihat anak sebesar 3,3 kg keluar dari dalam perutku melalui lubang kecil yang tidak sesuai dengan ukuran kepalanya. Apalagi kemudian saya tahu bahwa penundaan di bukaan delapan itu adalah akibat sang bayi terlilit tali pusar. Beruntung tidak terjadi kecelakaan fatal, bayiku bisa keluar dengan selamat. Bahkan nilai APGARnya 10/10...Puji Tuhan!
Keajaiban lainnya (yang tentunya merupakan keajaiban untuk semua anak yang lahir) adalah rasa lelah yang sempat terasa, tiba-tiba sirna begitu saja seketika mendengar tangisan bayi yang kencang. Anak yang lahir dengan selamat membuatku bersyukur dan merasakan kedamaian yang nyaman, akupun jatuh tertidur...dan terbangun hanya dengan rasa bahagia untuk kesempatan berjumpa dan mendekap bayiku secara langsung.
Bayangkan seorang calon anak sedang bertumbuh di perutmu. Setiap saat terasa mual, dan hampir setiap pagi muntah, tetapi menurut dokter kandungan justru perasaan mual itu tanda bahwa anak sedang bertumbuh. Yang paling terasa bagiku adalah perasaan mengantuk yang amat sangat, jadi ketika bertahun-tahun kemudian rasa kantuk yang amat sangat ini kembali menyerang saya tahu sudah waktunya membeli alat pemeriksa kehamilan.
Keajaiban lain yang terasa selama mengandung adalah ketulian sementara. Benar, untuk sementara waktu aku menjadi sedikit tuli, budek mungkin istilah yang lebih tepat (entah istilah ini masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia atau tidak hehehe...). Ketulian itu mengganggu pekerjaanku, dalam berbicara dengan orang saya harus minta tolong orang mengulang perkataannya dua atau tiga kali, sungguh memalukan! Rasanya ketidak seimbangan itu sangat mengganggu, bila berdiri lama terasa pusing, demikian juga tatkala saya mengendarai mobil. Karena itu ketika memasuki usia kehamilan tujuh bulan, saya terpaksa berhenti sementara dari pekerjaan.
Sempat berobat ke THT, tapi berdasarkan pemeriksaan kondisi telinga saya baik-baik saja. Pesan dokter hanya satu, minum vitamin yang cukup dan bila setelah melahirkan masih terasa tuli baru kembali ke dokter. Ternyata kondisi "tuli" itu memang hanya terjadi selama kehamilan.
Tonjolan-tonjolan tinjunya atau tendangan kaki mungilnya membuat perutku seperti permukaan laut yang bergelora, terkadang menonjol di kiri, terkadang naik di kanan, gepeng ke kiri...gepeng ke kanan.
Kenaikan berat badanku tidak terlalu banyak, 11 kg sudah cukup membuat tubuh senantiasa terasa panas dan semakin besar usia kandungan semakin tidak tahan menahan buang air kecil. Kebetulan saat mengandung itu hampir bersamaan dengan Kris Dayanti (KD) yang mengandung anak pertamanya. Kalau tidak salah kenaikan berat badannya 27 kg...(apa salah ya?!) wah tidak tebayangkan... Saya sering melihatnya dipotret adik saya, jadi tambah terasa betapa ajaib pemberian Tuhan. Sementara saya menjadi setengah "lumpuh" karena "tuli", KD dengan genderang yang lebih besar tetap aktif dalam kegiatannya menyanyi dan pemotretan. Lagu "Timang-timang anakku sayang..." ikut mewarnai masa-masa awal kehadiran anakku. Sayang sekali biduk rumah tangga KD saat ini sudah terburaikan gelombang kehidupan yang memang ganas. Sebenarnya anak adalah perekat dari setiap bahtera, dengan Tuhan yang menjadi jurumudi utama. Terkadang kita melupakan keduanya, dan sibuk berkutat dengan ego dan kebutuhan masing-masing.
Kelahiran putra pertamaku juga terasa ajaib. Pada bukaan delapan tiba-tiba tiada gerakan sama sekali. Selang oksigen sudah sedari tadi menempel di hidungku, sementara dokter juga tidak kunjung hadir. Kehadiran perawat dan bidan yang sangat telaten memberi semangat (bahkan memijatku) membuat penantian yang terasa lama sekali itu tidak terlalu mengerikan. Karena itu dalam memilih rumah bersalin sangat penting untuk memiliki perasaan nyaman dan aman di tangan bidan dan perawat yang membantu persalinan. Ketika bukaan sepuluh tiba tiba-tiba justru kedua pahaku dirapatkan, ternyata dokter kandunganku sudah tiba...jadi menunggu dia menolong kelahiran. Ajaib tentunya melihat anak sebesar 3,3 kg keluar dari dalam perutku melalui lubang kecil yang tidak sesuai dengan ukuran kepalanya. Apalagi kemudian saya tahu bahwa penundaan di bukaan delapan itu adalah akibat sang bayi terlilit tali pusar. Beruntung tidak terjadi kecelakaan fatal, bayiku bisa keluar dengan selamat. Bahkan nilai APGARnya 10/10...Puji Tuhan!
Keajaiban lainnya (yang tentunya merupakan keajaiban untuk semua anak yang lahir) adalah rasa lelah yang sempat terasa, tiba-tiba sirna begitu saja seketika mendengar tangisan bayi yang kencang. Anak yang lahir dengan selamat membuatku bersyukur dan merasakan kedamaian yang nyaman, akupun jatuh tertidur...dan terbangun hanya dengan rasa bahagia untuk kesempatan berjumpa dan mendekap bayiku secara langsung.
Friday, 4 December 2009
Berbicara dengan janin
Kalau tidak salah, dalam almanak China anak yang lahir sudah langsung berusia satu tahun. Berarti usia kehamilan yang sembilan bulan sepuluh hari (aturan normalnya) dianggap satu tahun kehidupan.
Sejak dalam kandungan memang hubungan antara orang tua, terutama ibu, sudah terjalin erat dengan bayinya. Berbicara dengan janin adalah salah satu faktor pendukung hubungan yang tercipta itu.
Bulan September 2007, saya menulis untuk wikimu.com "Berbicara dengan Janin, Mungkinkah?" Isinya adalah pengalaman saya berbicara dengan janin dalam kandunganku.
Tulisan itu saya kutip kembali di bawah ini:
Ternyata sebulan kemudian ada yang menjawab pertanyaan (dari judul artikel saya) dengan artikel burjudul "Janin Bisa Mendengar di Dalam Rahim". Ade Rima Koyansow, sang penulis, malah menyaksikan USG 4 dimensi dimana dokter memberikan permintaan kepada sang janin dan dituruti. Sepenggal dari tulisannya saya kutip:
Ajaib juga rasanya mendengar bahwa sang janin sudah mengerti kosa kata dan mengerti serta memenuhi permintaan dokter tersebut. Aku sendiri tidak pernah menggunakan sarana USG 4 dimensi, jadi tidak pernah melihat keajaiban itu. Toh mendengar denyut jantungnya serta merasakan gerakan-gerakannya saja sudah terasa ajaib. Sudahkah anda berbicara dengan buah hati yang sedang bertumbuh dalam kenyamanan rahim seorang ibu?
Sejak dalam kandungan memang hubungan antara orang tua, terutama ibu, sudah terjalin erat dengan bayinya. Berbicara dengan janin adalah salah satu faktor pendukung hubungan yang tercipta itu.
Bulan September 2007, saya menulis untuk wikimu.com "Berbicara dengan Janin, Mungkinkah?" Isinya adalah pengalaman saya berbicara dengan janin dalam kandunganku.
Tulisan itu saya kutip kembali di bawah ini:
Ketika orang ribut berbincang tentang pengaruh lagu-lagu Mozart terhadap janin dan bayi, saya juga termasuk yang mencoba bereksperimen. Janin yang saya kandung saya beri suguhan musik klasik dari Mozart sampai Tchaikovsky (yang saya suka karena temponya lebih cepat). Bukan cuma musik klasik yang menjadi konsumsi calon anak saya tapi juga lagu-lagu versi Perancis dari Anggun C. Sasmi sampai cerita Matilda (Roald Dahl) dalam versi Perancis.
Selain itu saya punya kebiasaan bercakap-cakap dalam hati (kalau keras-keras nanti disangka orang saya gila lagi...) dengan calon anak saya. Salah satu percakapan kami yang saya catat di buku harian saya adalah masalah tanggal lahir. Waktu itu sedang piala dunia sepak bola di Perancis, finalnya persis pada hari kemerdekaan Perancis 14 Juli, lumayan kan kelahiran dia dirayain orang sedunia (padahal yang dirayain tuh final sepak bolanya he..he..he..) Sementara menurut saya tanggal 7 bulan 7 juga unik sebagai tanggal lahir. Ketika tanggal 5 Juli tengah malam saya merasakan kontraksi saya sudah pasrah tanggal berapa saja sang bayi lahir saya terima. Yang terpenting adalah segera menuntaskan kehadirannya di dunia ini. Ternyata bayi saya memilih berhenti dulu, jadilah kontraksi tiba-tiba berhenti dan saya menunggu di ruang Kala I (tempat menunggu persalinan) sambil mendengar kelahiran bayi-bayi lain. Malam tanggal 6 Juli 1998 itu saya diberi obat untuk merangsang kontraksi, setelah ditunggu-tunggu akhirnya pagi dini hari jam 5 lebih (masih nunggu dokter kandungan selesai lari pagi) baru deh bayi saya lahir! Ajaib juga rasanya karena tanggal kelahirannya sudah saya perbincangkan dengan sang janin ketika menulis buku harian beberapa bulan sebelumnya.
Yang agak unik dari hasil eksperimen saya, anak saya cukup suka musik tapi entah kenapa waktu kecil dulu agak alergi bahasa Inggris dan Perancis. Ketika dia masih balita dan saya coba kenalkan dengan dua macam bahasa asing ini dia malah minta belajar bahasa Spanyol! Mungkin karena sering nonton VCD Dora the Explorer, atau bosan dicekokin dua macam bahasa di atas dari sejak masih di perut...
Hal lain yang unik adalah ketika usia kehamilan kurang lebih empat bulan, suami saya ngajak nonton film James Bond di bioskop. Ketika film sedang seru-serunya saya merasa sakit perut yang dashyat. Tapi karena suami tidak ingin meninggalkan film yang sedang seru-serunya jadilah saya menunggu film selesai. Ajaibnya begitu film selesai sakit perut saya juga hilang! Karena baru kehamilan pertama, saya merasa perlu periksa ke dokter. Ternyata saran dokter cuma: "Sementara jangan nonton bioskop dulu deh, mungkin bayi kamu sensitif!". Memang benar ternyata anak pertama saya ini cukup sensitif.
Tanggal kelahiran anak-anak saya cukup antik, kalau yang pertama 7 bulan 7, maka yang kedua dan ketiga lahirnya tanggal 10 bulan 10. Banyak yang mengira saya operasi, padahal sebenarnya lahir normal semua!
Yang kedua dan ketiga memang sama tanggalnya cuma beda lima menit karena mereka kembar. Tapi sebenarnya jatah kelahiran mereka itu bulan November. Hanya kali ini bukan masalah tanggal yang jadi bukti percakapan dengan janin, tapi proses kelahirannya sendiri.
Ketika itu saya sudah 5 hari di rumah sakit, menunggu paru-paru janin saya dimatangkan sambil istirahat total supaya tidak mendorong kontraksi. Kalau orang biasanya diberi infus supaya mendorong kontraksi, maka saya justru diberi infus untuk mencegah kontraksi. Maklum menurut dokter saya seharusnya menunggu minimal 2 minggu lagi.
Ketika kontraksi yang ditunda itu tidak bisa ditahan lagi, dan kondisi bukaan sudah di bukaan sepuluh (waktu untuk si bayi keluar) bayi-bayi saya rebutan ingin keluar sehingga mereka saling adu kepala. Dokter kandungan saya sudah menyerah dan memberi perintah untuk mempersiapkan kamar operasi serta meminta kehadiran dokter anastesi. Saya malah ketakutan akan resiko rasa sakit setelah operasi, belum lagi biaya operasinya akan dihitung dua anak! Aduh, satu-satunya jalan saya mencoba negosiasi dengan anak-anak saya. "Ayo, kamu yang badannya kecilan keluar duluan, kan pasti lebih gampang molos karena kecil. Dan kamu yang lebih besar mengalah dulu, biar yang kecil itu keluar duluan! Cepat ya, jangan sampai keduluan ruang operasi siap!" Setelah itu baru saya berdoa pada Tuhan supaya membantu kami. Beruntung sekali doa saya terkabul, sebelum dokter anastesi tiba,kepala bayi yang beratnya cuma 2,4 kg sudah mulai nongol. Beruntung juga bahwa ada bidan senior yang lewat dan melihat hal ini (situasi saat itu sudah mirip medan perang karena semua orang sibuk mempersiapkan kamar operasi, tidak ada yang memperhatikan saya yang pasien). Bidan ini yang berteriak meminta dokter membatalkan persiapan operasi karena bayi yang adu kepala itu sudah mulai muncul. Akhirnya bayi pertama keluar dibantu dengan alat (sehingga kepalanya sempat agak benjol selama bebarapa bulan), disusul dengan bayi kedua yang beratnya 2,6 kg. (Sekarang bayi yang tadinya lebih kecil malah sudah jauh lebih besar dari kembarannya sehingga terkadang tampak seperti kakak adik biasa saja).
Pengalaman saya bersama anak-anak saya ini memberikan sebuah bukti (walaupun mungkin tidak bisa dianggap ilmiah) betapa komunikasi dengan anak sudah bisa terjalin sejak masih di dalam kandungan. Karena itu penting bagi para calon bapak dan ibu untuk menjaga suasana emosi seorang ibu yang sedang mengandung serta mengajak sang bakal bayi untuk bercakap-cakap. Komunikasi itu sudah ada sejak ia masih janin...
Ternyata sebulan kemudian ada yang menjawab pertanyaan (dari judul artikel saya) dengan artikel burjudul "Janin Bisa Mendengar di Dalam Rahim". Ade Rima Koyansow, sang penulis, malah menyaksikan USG 4 dimensi dimana dokter memberikan permintaan kepada sang janin dan dituruti. Sepenggal dari tulisannya saya kutip:
Memang sebelumnya saya pernah membaca artikel yang berhubungan dengan masalah janin dapat mendengarkan suara ibunya. Tadinya saya pikir biasa-biasa saja.
Tapi setelah saya melihat rekaman USG 4 dimensi di mana terekam janin yang diajak bicara oleh dokter yang sedang memeriksa dan meminta janin tersebut untuk melakukan beberapa permintaan dan ternyata benar-benar direspon oleh janin tersebut.
Saya sampai terbengong-bengong saat mendengarkan perintah dokternya kepada janin tersebut dengan berbicara “ Nak, coba perlihatkan wajah cantikmu…!” Di mana sebelumnya janin tersebut hanya menunduk dan tiba-tiba menyingkirkan tangannya dan mendongakkan kepalanya. Itu perintah pertama, selanjutnya dokter berbicara “ Coba Nak tunjukkan lima jarimu …!” Dengan cepat janin tersebut meregangkan tangan yang sebelumnya dikepal dan melebarkan tangannya. Ya Tuhan… saya sungguh tidak percaya bahwa benar-benar terjadi. Di mana sebelumnya saya hanya membaca artikel saja dan tidak melihat rekaman tersebut. Untuk perintah terakhir dokter meminta untuk mengisap jempolnya sendiri “Nak, coba isap jempolmu !” dan diisaplah jempol tersebut. Lucu sekali melihatnya…
Ajaib juga rasanya mendengar bahwa sang janin sudah mengerti kosa kata dan mengerti serta memenuhi permintaan dokter tersebut. Aku sendiri tidak pernah menggunakan sarana USG 4 dimensi, jadi tidak pernah melihat keajaiban itu. Toh mendengar denyut jantungnya serta merasakan gerakan-gerakannya saja sudah terasa ajaib. Sudahkah anda berbicara dengan buah hati yang sedang bertumbuh dalam kenyamanan rahim seorang ibu?
Thursday, 3 December 2009
Anak adalah jawaban doa
Lagu "Anak" itu memang menyentuh aku, jauh sebelum aku mengenal kata pacar. Ketika mengikuti retret rohani, dalam sebuah sesi meditasi kami diperdengarkan lagu itu...lalu diminta mengingat orangtua masing-masing. Isak tangis segera muncul, mungkin rasa bersalah dan rasa rindu bercampur aduk... Maklum usia belasan adalah usia pemberontakan, jadi tidak ayal sentilan lagu itu terasa cukup berarti.
Setelah menikah arti lagu ini lebih tajam terasa. Setelah lama bimbang dan ragu, akhirnya aku menikah di usia 30 tahun, bukan usia yang muda untuk ukuran orang Indonesia. Selain doa untuk kelanggengan pernikahan itu sendiri, tidak terlupa doa untuk segera punya momongan. Menikah di awal tahun, jawaban doa datang menjelang penghujung tahun. Kalau tidak salah bulan Oktober adalah saat terakhir sel telur gugur untuk menyiapkan tempat baru bagi sel yang lebih segar. Waktu itu sempat meminta melalui doa kepada Santo Antonius dari Padua (novenanya bulan Juli kalau tidak salah) karena itu ketika anak sulungku lahir bulan Juli nama baptisnya adalah Antonius.
Ya kehadiran sang buah hati adalah jawaban dari doa-doa ayah dan bunda. Ada yang menantikannya sebentar, ada pula yang bertahun-tahun menanti...
Anak adalah keajaiban yang diberikan Tuhan. Bagaimana benih kecil yang merupakan perpaduan dari ayah dan bunda bertemu dan berkembang dalam rahim adalah sebuah misteri keajaiban yang dititipkanNya kepada orangtua.
Doa tidak selalu terkabulkan. Ketika aku masih kecil, sering kuberdoa meminta adik perempuan, tidak pernah kuperoleh. Ketika sudah menikah dan punya anak lelaki satu, kuingin menimang anak perempuan...malah mendapatkan kembar lelaki. Apapun yang diberikanNya tetap adalah keajaiban yang bertumbuh di dalam rahim seorang ibu.
Kemudian anak manis yang awalnya senantiasa disebut "malaikat kecilku" itu bertumbuh...lalu "tanduk" mulai tumbuh pula...baik di kepala sang anak, maupun di kepala sang bunda. Belum lagi masalah-masalah dalam kehidupan yang menjadikan "tanduk-tanduk" itu tumbuh lebih subur.
Kenangan manis yang ada ingin kugoreskan di dalam blog ini, agar tidak terlupakan dalam pendeknya ingatan. Untuk mengingatkan ketika "tanduk" itu mulai muncul...mereka adalah anak-anak panah titipan Ilahi! Sembari berdoa agar mampu menjadi pasangan busur yang kokoh dan mampu digunakanNya melontarkan anak panah ke sasaran yang tepat, kuingin ingatan akan malaikat kecil yang masih selalu tampak hadir ketika mereka sedang tertidur pulas hadir bersamaku.
Anak juga menjadi cermin dalam lingkaran kehidupan ini, bagaimana kita menatap diri yang bertumbuh menjadi besar dan bercermin akan sikap pribadi terhadap orang tua, menjadi jalan untuk lebih mengerti persimpangan jalan dimana kita memilih jalan yang berbeda.
Setelah menikah arti lagu ini lebih tajam terasa. Setelah lama bimbang dan ragu, akhirnya aku menikah di usia 30 tahun, bukan usia yang muda untuk ukuran orang Indonesia. Selain doa untuk kelanggengan pernikahan itu sendiri, tidak terlupa doa untuk segera punya momongan. Menikah di awal tahun, jawaban doa datang menjelang penghujung tahun. Kalau tidak salah bulan Oktober adalah saat terakhir sel telur gugur untuk menyiapkan tempat baru bagi sel yang lebih segar. Waktu itu sempat meminta melalui doa kepada Santo Antonius dari Padua (novenanya bulan Juli kalau tidak salah) karena itu ketika anak sulungku lahir bulan Juli nama baptisnya adalah Antonius.
Ya kehadiran sang buah hati adalah jawaban dari doa-doa ayah dan bunda. Ada yang menantikannya sebentar, ada pula yang bertahun-tahun menanti...
Anak adalah keajaiban yang diberikan Tuhan. Bagaimana benih kecil yang merupakan perpaduan dari ayah dan bunda bertemu dan berkembang dalam rahim adalah sebuah misteri keajaiban yang dititipkanNya kepada orangtua.
Doa tidak selalu terkabulkan. Ketika aku masih kecil, sering kuberdoa meminta adik perempuan, tidak pernah kuperoleh. Ketika sudah menikah dan punya anak lelaki satu, kuingin menimang anak perempuan...malah mendapatkan kembar lelaki. Apapun yang diberikanNya tetap adalah keajaiban yang bertumbuh di dalam rahim seorang ibu.
Kemudian anak manis yang awalnya senantiasa disebut "malaikat kecilku" itu bertumbuh...lalu "tanduk" mulai tumbuh pula...baik di kepala sang anak, maupun di kepala sang bunda. Belum lagi masalah-masalah dalam kehidupan yang menjadikan "tanduk-tanduk" itu tumbuh lebih subur.
Kenangan manis yang ada ingin kugoreskan di dalam blog ini, agar tidak terlupakan dalam pendeknya ingatan. Untuk mengingatkan ketika "tanduk" itu mulai muncul...mereka adalah anak-anak panah titipan Ilahi! Sembari berdoa agar mampu menjadi pasangan busur yang kokoh dan mampu digunakanNya melontarkan anak panah ke sasaran yang tepat, kuingin ingatan akan malaikat kecil yang masih selalu tampak hadir ketika mereka sedang tertidur pulas hadir bersamaku.
Anak juga menjadi cermin dalam lingkaran kehidupan ini, bagaimana kita menatap diri yang bertumbuh menjadi besar dan bercermin akan sikap pribadi terhadap orang tua, menjadi jalan untuk lebih mengerti persimpangan jalan dimana kita memilih jalan yang berbeda.
Wednesday, 2 December 2009
Anak Adalah Titipan Tuhan
Saya ingin memulai menulis tentang buah hati saya. Ingin mencoba menjadikan tulisan sebagai cermin untuk menjadi busur yang kuat dan mantap, untuk mencari arah sasaran yang tepat bagi setiap anak panah. Memang Sang Pemanah yang akan mengarahkan, tapi seringkali busur menjadi keras kepala mencari sasaran sendiri...untuk bisa pasrah dan berguna ditanganNya terkadang kita membutuhkan cermin.
Sama seperti cermin dari kehidupan anak-anak saya membuat saya bercermin sebagai anak dalam bersikap terhadap orang tua saya. Ada satu lagu yang saya kenal dalam retret rohani di masa sekolah dulu yang tidak pernah terlepas dari ingatan:
Akhirnya penjelajahan saya dalam blog harus memasuki ranah yang paling pribadi, tapi saya berharap tulisan dalam blog ini bukan sekedar catatan harian sebagai seorang ibu,tetapi bisa berguna bagi ibu-ibu lainnya.
Anakmu bukan anakmu! (Khalil Gibran)
Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.
Sama seperti cermin dari kehidupan anak-anak saya membuat saya bercermin sebagai anak dalam bersikap terhadap orang tua saya. Ada satu lagu yang saya kenal dalam retret rohani di masa sekolah dulu yang tidak pernah terlepas dari ingatan:
Child (Freddie Aguilar) (see the video here)
When you were born into this world
Your mom and dad saw a dream fulfilled
Dream come true
The answer to their prayers
You were to them a special child
Gave 'em joy every time you smiled
Each time you cried
They're at your side to care
Child, you don't know
You'll never know how far they'd go
To give you all their love can give
To see you through and God it's true
They'd die for you, if they must, to see you live
How many seasons came and went
So many years have now been spent
For time ran fast
And now at last you're strong
Now what has gotten over you
You seem to hate your parents too
Do speak out your mind
Why do you find them wrong
Child you don't know
You'll never know how far they'd go
To give you all their love can give
To see you through and God it's true
They'd die for you, if they must, to see you live
And now your path has gone astray
Child you ain't sure what to do or say
You're so alone
No friends are on your side
And child you now break down in tears
Let them drive away your fears
Where must you go
Their arms stay open wide
Child you don't know
You'll never know how far they'd go
To give you all their love can give
To see you through and God it's true
They'd die for you, if they must, to see you live
Child you don't know
You'll never know how far they'd go
To give you all their love can give
To see you through and God it's true
They'd die for you, if they must, to see you live
Akhirnya penjelajahan saya dalam blog harus memasuki ranah yang paling pribadi, tapi saya berharap tulisan dalam blog ini bukan sekedar catatan harian sebagai seorang ibu,tetapi bisa berguna bagi ibu-ibu lainnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)